Museum Pusaka Nias menjadi salah satu tempat penting untuk mengenal kekayaan budaya masyarakat Nias atau Ono Niha secara lebih dekat. Berada di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, museum ini menyimpan ribuan benda budaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Nias, mulai dari sistem sosial, upacara adat, perhiasan, senjata, rumah tradisional, perlengkapan sehari hari hingga peninggalan kepercayaan lama.
Keberadaan Museum Pusaka Nias terasa semakin penting karena banyak benda tradisional Nias yang pada masa lalu berpindah tangan dan keluar dari pulau. Upaya pengumpulan koleksi kemudian dilakukan agar peninggalan tersebut tetap dapat dipelajari oleh masyarakat setempat. Museum saat ini dikelola Yayasan Pusaka Nias, sebuah lembaga sosial dan nirlaba yang berdiri pada 1991 serta berfokus pada pelestarian kebudayaan Nias.
Museum tidak hanya menawarkan ruangan berisi benda tua. Kompleksnya dilengkapi rumah tradisional, taman, perpustakaan, penginapan, ruang pertemuan, kafe hingga kebun binatang kecil. Perpaduan tersebut membuat kunjungan ke Museum Pusaka Nias dapat berlangsung lebih panjang karena pengunjung bisa mengenal budaya melalui benda koleksi sekaligus merasakan suasana lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Pulau Nias.
Museum Pusaka Nias Bermula dari Kepedulian Johannes Hämmerle
Perjalanan Museum Pusaka Nias sangat erat dengan Pastor Johannes M. Hämmerle, OFMCap. Rohaniwan asal Jerman tersebut datang ke Nias pada awal 1970 an dan kemudian menaruh perhatian besar terhadap kehidupan, bahasa, tradisi dan benda budaya masyarakat setempat. Situs resmi museum menyebut koleksi yang kemudian menjadi cikal bakal museum mulai dikumpulkan setelah Hämmerle melihat banyak pusaka keluarga dijual karena kondisi ekonomi masyarakat saat itu.
Pada periode tersebut, barang tradisional Nias juga menarik perhatian kolektor barang antik. Patung, perhiasan, benda upacara bahkan sejumlah peninggalan besar mulai meninggalkan pulau. Hämmerle akhirnya memilih mengumpulkan berbagai benda yang ditemuinya sambil mencatat informasi mengenai fungsi dan sejarah barang tersebut.
Jumlah koleksi terus bertambah sampai pengelolaannya sulit dilakukan seorang diri. Gagasan membangun sebuah lembaga khusus kemudian berkembang. Pemerintah Kota Gunungsitoli mencatat bahwa Hämmerle mengumpulkan artefak, tradisi lisan dan catatan kebudayaan ketika menjalankan tugas di berbagai wilayah Nias. Dorongan membangun lembaga pelestarian semakin kuat pada sekitar 1990.
Yayasan Pusaka Nias selanjutnya dibentuk sebagai lembaga yang menaungi kegiatan tersebut. Pembangunan kompleks museum dilakukan secara bertahap. Empat paviliun utama dan fasilitas pendukung kemudian menjadi bagian dari tempat penyimpanan sekaligus pameran koleksi.
Museum telah menjadi pusat kegiatan budaya sejak pamerannya mulai dibuka pada 1995. Rencana peresmian besar pada April 2005 harus tertunda setelah gempa dahsyat mengguncang Nias. Peresmian kemudian berlangsung pada 18 November 2008.
Menurut penulis, kisah berdirinya Museum Pusaka Nias menarik karena museum ini lahir bukan sekadar dari kebutuhan menyediakan tempat wisata. Ada proses panjang menyelamatkan benda yang berisiko meninggalkan daerah asalnya, kemudian mengembalikannya menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat Nias sendiri.
Ribuan Koleksi Menjadi Rekaman Kehidupan Masyarakat Nias
Memasuki bagian pameran Museum Pusaka Nias, pengunjung dapat menemukan koleksi dengan cakupan yang luas. Situs resmi museum menyebut barang yang dikumpulkan terutama memiliki nilai budaya, sejarah dan seni yang membantu pengunjung memahami kehidupan masyarakat Nias pada masa sebelumnya.
Koleksinya meliputi senjata, perlengkapan perang, pakaian, perhiasan, benda upacara, perlengkapan keagamaan lama, instrumen musik, peralatan rumah tangga serta berbagai benda yang berhubungan dengan lingkungan Pulau Nias. Koleksi tidak ditempatkan sebagai barang yang berdiri sendiri. Penyusunan ruang pamer dibuat berdasarkan tema sehingga pengunjung dapat melihat hubungan antara sebuah benda dengan kedudukannya di tengah kehidupan masyarakat.
Pada Oktober 2025, situs resmi Museum Pusaka Nias mencatat adanya program penyelamatan terhadap sekitar 6.900 koleksi budaya dengan dukungan Gerda Henkel Stiftung dari Jerman. Angka tersebut memperlihatkan betapa besarnya jumlah benda yang berada dalam pengelolaan museum.
Di antara koleksi pilihan yang diperkenalkan museum terdapat peti jenazah Hasi Nifolasara, patung Adu Inada Larise, Adu Harimao, patung leluhur Adu Zatua, pedang Tölögu, perisai Baluse, mahkota emas Rai Högö dan baju perang Öröba Si’öli. Koleksi batu, kayu, perhiasan dan perlengkapan rumah tangga ikut memberikan gambaran mengenai keterampilan masyarakat Nias dalam mengolah material yang tersedia di lingkungan mereka.
Paviliun I Memperlihatkan Keagungan Golongan Bangsawan
Koleksi utama Museum Pusaka Nias ditata dalam empat paviliun besar. Pembagian tersebut membantu pengunjung mengikuti berbagai sisi kehidupan masyarakat Nias tanpa harus berhadapan dengan ribuan barang secara bersamaan.
Paviliun I menampilkan benda yang berhubungan dengan kelompok masyarakat berkedudukan tinggi, pemimpin, prajurit dan tokoh keagamaan tradisional. Perhiasan, senjata, gendang upacara serta benda dari sistem kepercayaan sebelum masuknya agama Kristen menjadi bagian dari ruangan tersebut.
Salah satu benda yang menarik perhatian adalah model rumah kepala suku dari Nias Selatan. Rumah tradisional Nias dikenal mempunyai konstruksi kayu yang rumit dan bentuk berbeda menurut wilayahnya. Kehadiran model bangunan membantu pengunjung memperhatikan struktur rumah dari sudut yang sulit diamati apabila hanya berdiri di depan bangunan asli.
Perhiasan juga memberikan petunjuk mengenai susunan sosial masyarakat pada zamannya. Mahkota, gelang, kalung dan aksesori tertentu tidak sekadar dipakai untuk menghias tubuh. Jenis benda, material dan penggunaannya berkaitan dengan posisi seseorang dalam masyarakat serta kegiatan adat yang sedang berlangsung.
Paviliun II Membawa Pengunjung ke Pesta Adat Owasa
Masyarakat Nias memiliki tradisi pesta adat yang mempunyai posisi penting dalam kehidupan sosial. Salah satunya dikenal sebagai Owasa. Museum menyediakan Paviliun II untuk memperlihatkan berbagai benda yang digunakan dalam pesta serta perayaan tradisional tersebut.
Situs Museum Pusaka Nias menjelaskan bahwa Owasa berkaitan dengan peningkatan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Karena penyelenggaraannya membutuhkan persiapan besar, berbagai perlengkapan khusus digunakan selama kegiatan berlangsung. Paviliun II memperlihatkan perhiasan, pakaian, perlengkapan jamuan serta tandu yang digunakan dalam prosesi.
Benda yang berhubungan dengan kematian serta upacara keagamaan lama turut ditempatkan pada bagian ini. Pengunjung dapat melihat bagaimana kehidupan sosial, kepercayaan serta upacara mempunyai hubungan yang kuat dalam masyarakat Nias terdahulu.
Melalui susunan benda tersebut, pesta adat dapat dipahami sebagai kegiatan yang melibatkan lebih dari sekadar makanan dan hiburan. Ada simbol status, hubungan antarwarga, penghormatan terhadap leluhur serta aturan adat yang mengiringinya.
Paviliun III Mengajak Melihat Kehidupan Ono Niha Sehari Hari
Jika Paviliun I banyak berbicara mengenai pemimpin dan kelompok masyarakat berkedudukan tinggi, Paviliun III memperlihatkan sisi yang lebih dekat dengan rutinitas masyarakat.
Peralatan pertukangan, perkakas berburu, perlengkapan rumah, alat musik dan benda yang berkaitan dengan tempat tinggal menjadi bagian koleksinya. Museum juga menyimpan berbagai perlengkapan tradisional untuk menangkap ikan dan berburu.
Benda sederhana seperti wadah ukur, sisir atau perlengkapan dapur justru dapat menjadi bagian menarik karena menunjukkan cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari hari sebelum barang industri modern mudah diperoleh.
Alat musik tradisional memperlihatkan sisi lain kehidupan Ono Niha. Musik hadir dalam kegiatan adat, perayaan dan kehidupan sosial. Koleksi gendang serta instrumen lainnya kemudian melengkapi gambaran yang dibangun museum tentang hubungan antara pekerjaan, rumah, kesenian dan upacara.
Paviliun ini juga menampilkan benda yang berkaitan dengan tradisi peperangan pada periode terdahulu. Museum tidak memisahkan sejarah tersebut dari kehidupan masyarakat karena sistem pertahanan dan konflik pernah menjadi bagian dari perjalanan banyak komunitas di Pulau Nias.
Rumah Tradisional Nias Menjadi Koleksi dalam Ukuran Sebenarnya
Salah satu kelebihan Museum Pusaka Nias berada di luar ruang pamer. Pengunjung tidak hanya menemukan miniatur rumah adat, tetapi juga bangunan tradisional Nias yang ditempatkan di lingkungan museum.
Situs resmi museum menyebut artefak berukuran besar, termasuk batu megalit dan rumah tradisional asli dari berbagai kawasan Nias, dapat ditemukan di taman sekitar paviliun pameran.
Keberadaan rumah tersebut memungkinkan pengunjung memperhatikan sistem konstruksi kayu Nias secara langsung. Rumah tradisional dibangun dengan teknik sambungan dan struktur penyangga yang memperlihatkan pengetahuan masyarakat mengenai bangunan di wilayah yang memiliki aktivitas kegempaan tinggi.
Bentuk rumah juga tidak sepenuhnya seragam di seluruh Pulau Nias. Tradisi bangunan di bagian utara dan selatan memiliki karakter tersendiri. Perbedaan bentuk itu menjadi salah satu alasan museum penting bagi wisatawan yang belum memiliki kesempatan mengunjungi banyak desa adat dalam satu perjalanan.
Batu Megalit Membuka Bagian Lain dari Sejarah Nias
Nias dikenal luas dengan kebudayaan megalitiknya. Batu berukuran besar dapat ditemukan di sejumlah permukiman tradisional dan berkaitan dengan berbagai kegiatan masyarakat pada masa terdahulu.
Museum Pusaka Nias menempatkan sejumlah batu megalit di lingkungan terbuka. Ada patung batu, tempat duduk batu serta bentuk peninggalan lainnya. Sebagian koleksi tersebut membantu menjelaskan hubungan tradisi batu dengan status sosial serta kegiatan seremonial masyarakat.
Keberadaan koleksi megalit juga berkaitan dengan kegiatan penelitian. Museum pernah membantu berbagai penelitian mengenai usia peninggalan megalitik di Nias, termasuk kerja sama dengan peneliti internasional. Museum bahkan ikut memfasilitasi penelitian arkeologi di Gua Tögi Ndrawa dekat Gunungsitoli sejak akhir 1990 an.
Fungsi tersebut memperlihatkan posisi museum sebagai tempat penyimpanan benda sekaligus pusat data bagi penelitian sejarah Pulau Nias.
Perpustakaan Menyimpan Literatur Lama Tentang Pulau Nias
Bagian lain yang membuat Museum Pusaka Nias berbeda adalah keberadaan perpustakaan khusus. Koleksi perpustakaannya berfokus pada kebudayaan, sejarah serta warisan Nias.
Johannes Hämmerle mengumpulkan berbagai tulisan mengenai Nias, termasuk dokumen yang dibuat puluhan hingga ratusan tahun sebelumnya. Di antaranya terdapat artikel serta surat peninggalan pegawai kolonial dan misionaris awal yang pernah tinggal di pulau tersebut. Sebagian berupa dokumen asli, sedangkan lainnya tersimpan dalam bentuk salinan.
Perpustakaan kemudian menjadi sumber bagi mahasiswa, peneliti maupun masyarakat yang ingin mencari informasi lebih mendalam. Museum juga aktif menerbitkan buku mengenai bahasa, sejarah, rumah tradisional, cerita rakyat dan kebudayaan Nias.
Hämmerle sendiri menghasilkan sejumlah buku dan artikel berdasarkan penelitian panjangnya di Nias. Museum menyebut kegiatan risetnya telah menghasilkan 18 buku serta berbagai tulisan yang diterbitkan di Indonesia dan luar negeri.
Taman dan Mini Zoo Membuat Museum Tidak Terasa Seperti Ruang Pamer Biasa
Pengalaman berkunjung tidak berhenti setelah keluar dari paviliun. Museum memiliki taman rekreasi yang membuat suasana kompleks terasa lebih terbuka.
Taman tersebut berisi tanaman serta berbagai elemen yang berkaitan dengan lingkungan Nias. Museum juga mengoperasikan kebun binatang kecil dengan sejumlah satwa asli pulau. Fasilitas lain yang tersedia mencakup kafe, penginapan serta ruang pertemuan.
Keberadaan fasilitas rekreasi memberi pilihan bagi keluarga yang datang bersama anak. Orang tua dapat mengajak anak melihat koleksi sejarah terlebih dahulu, kemudian melanjutkan kunjungan ke area taman.
Museum juga berada di kawasan yang dekat dengan pesisir. Kombinasi lingkungan terbuka, rumah adat, batu megalit dan pepohonan menjadikannya berbeda dari museum yang seluruh koleksinya ditempatkan dalam satu gedung tertutup.
Menurut penulis, kekuatan Museum Pusaka Nias justru berada pada cara pengunjung dapat berpindah dari artefak di dalam paviliun menuju rumah adat, batu megalit dan taman di luar ruangan. Kebudayaan Nias akhirnya tidak terasa seperti kumpulan benda di balik kaca.
Museum Menjadi Ruang Belajar bagi Generasi Muda Nias
Peran Museum Pusaka Nias terus berkembang sebagai ruang pendidikan. Pada perayaan ulang tahun ke 30 pada November 2025, Pemerintah Kota Gunungsitoli menekankan fungsi museum sebagai sarana pembelajaran sejarah serta kebudayaan bagi generasi muda.
Perayaan tersebut diisi dengan jelajah museum, pertunjukan tari, musik tradisional, kegiatan lingkungan serta sejumlah perlombaan. Museum juga mengadakan lomba bercerita hikayat Nias, kegiatan bahasa Nias, penulisan esai hingga cipta lagu daerah.
Aktivitas semacam ini membuat museum tidak hanya bekerja ketika pengunjung datang melihat koleksi. Ruang museum juga digunakan untuk mempertahankan keterampilan berbahasa, kesenian dan pengetahuan tradisional melalui kegiatan yang melibatkan pelajar serta masyarakat.
Fungsi pendidikan tersebut sangat penting karena sebagian benda yang tersimpan tidak lagi digunakan setiap hari. Tanpa penjelasan mengenai nama, fungsi dan asalnya, sebuah benda dapat kehilangan hubungan dengan generasi yang hidup sekarang.
Museum Pusaka Nias Pernah Mendapat Pengakuan Nasional
Kerja pelestarian yang dilakukan Museum Pusaka Nias juga pernah memperoleh perhatian tingkat nasional. Pada 2014, pendirinya menerima penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai pelestari cagar budaya terbaik. Situs museum mencatat pengakuan tersebut setelah bertahun tahun museum menjadi salah satu rujukan utama kebudayaan dan sejarah Nias.
Museum bahkan menyebut dirinya sebagai satu satunya museum di Pulau Nias. Empat paviliun pameran memberikan pengantar cukup luas mengenai kebudayaan masyarakat pulau tersebut, sementara papan informasi koleksi tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Keberadaan informasi berbahasa Inggris membantu wisatawan mancanegara yang datang ke Nias. Pulau ini telah lama dikenal wisatawan internasional melalui ombak selancarnya, terutama di bagian selatan. Museum memberi pilihan berbeda bagi mereka yang ingin mengetahui masyarakat yang hidup di balik popularitas destinasi pantai tersebut.
Lokasi Museum Pusaka Nias Mudah Dijangkau dari Gunungsitoli
Museum Pusaka Nias berada di Jalan Yos Sudarso Nomor 134 A, Gunungsitoli, Sumatera Utara. Alamat tersebut juga tercantum pada situs resmi Yayasan Pusaka Nias.
Lokasinya cukup dekat dengan kawasan utama Gunungsitoli sehingga museum dapat ditempatkan sebagai salah satu tujuan pertama bagi wisatawan yang baru tiba di kota tersebut. Dari museum, pengunjung memperoleh gambaran awal mengenai perbedaan tradisi antarwilayah Nias sebelum melanjutkan perjalanan menuju desa adat atau kawasan lain di pulau.
Untuk biaya masuk, informasi resmi Museum Pusaka Nias yang dipublikasikan melalui akun Instagramnya mencantumkan donasi masuk Rp7.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp4.000 untuk anak. Tarif wisatawan mancanegara tercantum Rp50.000. Harga dan jadwal operasional sebaiknya diperiksa kembali menjelang kunjungan karena informasi lama yang masih beredar di sejumlah situs mencantumkan nominal dan jam yang berbeda.
Museum juga menyediakan penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan tinggal di rumah tradisional Nias. Fasilitas tersebut membuat kompleks Museum Pusaka Nias dapat menjadi titik awal untuk mengenali Ono Niha sebelum menjelajahi berbagai desa, peninggalan megalitik dan kawasan budaya lain yang tersebar di Kepulauan Nias.


Comment