Bahaya Merkuri bagi Tubuh, Kerusakan Saraf hingga Ginjal Mengintai
Home / Kesehatan / Bahaya Merkuri bagi Tubuh, Kerusakan Saraf hingga Ginjal Mengintai

Bahaya Merkuri bagi Tubuh, Kerusakan Saraf hingga Ginjal Mengintai

Bahaya merkuri, merupakan logam berat yang dapat ditemukan secara alami di udara, tanah, dan air. Zat ini juga dilepaskan melalui kegiatan manusia, termasuk pembakaran batu bara, pengolahan logam, pembakaran limbah, kegiatan pertambangan emas, serta penggunaan sejumlah peralatan dan produk tertentu.

Keberadaan merkuri perlu mendapat perhatian karena zat tersebut dapat masuk ke tubuh melalui udara yang terhirup, makanan yang tertelan, atau produk yang digunakan pada kulit. Organisasi Kesehatan Dunia menempatkan merkuri sebagai salah satu dari sepuluh bahan kimia yang menjadi perhatian besar bagi kesehatan masyarakat. Paparan dalam jumlah kecil sekalipun dapat memicu gangguan serius, terutama jika terjadi berulang atau dialami oleh ibu hamil dan anak kecil.

Ancaman merkuri tidak selalu segera terlihat. Seseorang dapat terpapar selama berbulan bulan sebelum keluhan pada saraf, ginjal, kulit, atau kemampuan berpikir mulai dirasakan. Kondisi ini membuat sumber paparan sering terlambat dikenali, terutama ketika merkuri berasal dari kosmetik ilegal, lingkungan kerja, makanan laut tercemar, atau tumpahan peralatan lama.

Merkuri Hadir dalam Beberapa Bentuk Berbeda

Pembahasan mengenai bahaya merkuri perlu dimulai dengan mengenali bentuknya. Merkuri tidak selalu muncul sebagai cairan berwarna perak seperti yang dahulu ditemukan pada termometer kaca. Zat ini memiliki bentuk elemental, anorganik, dan organik yang masing masing mempunyai jalur masuk serta tingkat racun berbeda.

Merkuri elemental atau merkuri logam dapat berubah menjadi uap pada suhu ruangan. Uap tersebut tidak berwarna dan tidak mempunyai bau yang dapat menjadi peringatan bagi manusia. Paparan paling berbahaya biasanya terjadi ketika uap terhirup, misalnya setelah termometer bermerkuri pecah atau selama proses industri yang menggunakan logam tersebut.

Gusi Parah Bisa Baca Sinyal Ginjal, Studi Baru Bikin Waspada

Merkuri anorganik dapat ditemukan dalam bentuk garam merkuri. Senyawa ini bersifat korosif terhadap kulit, mata, dan saluran pencernaan. Apabila tertelan, ginjal menjadi salah satu organ yang paling rentan mengalami kerusakan.

Merkuri organik mencakup metilmerkuri yang dapat terbentuk setelah merkuri di lingkungan diubah oleh bakteri. Metilmerkuri kemudian masuk ke rantai makanan, menumpuk dalam ikan dan kerang, serta berpindah ke tubuh manusia melalui konsumsi makanan laut yang telah tercemar.

Sistem Saraf Menjadi Sasaran Utama Keracunan

Sistem saraf merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sensitif terhadap merkuri. Keluhan dapat muncul sebagai tangan gemetar, sakit kepala, sulit tidur, gangguan koordinasi, kesemutan, mati rasa, perubahan suasana hati, hingga penurunan kemampuan mengingat.

Pada paparan yang lebih berat, seseorang dapat mengalami kesulitan berjalan, gangguan penglihatan, penurunan kemampuan berbicara, serta melemahnya kendali gerakan. Keluhan tersebut dapat berkembang perlahan sehingga awalnya dianggap sebagai kelelahan, stres kerja, kurang tidur, atau proses penuaan.

ATSDR yang berada di bawah CDC menjelaskan bahwa pekerja yang terpapar uap merkuri dan masyarakat yang mengonsumsi makanan dengan kadar metilmerkuri tinggi pernah mengalami tremor, gangguan koordinasi, penurunan fungsi penglihatan, kesulitan belajar, perubahan ingatan, dan perubahan suasana hati.

Operasi Tumor Otak Saat Pasien Sadar, Cara Dokter Lindungi Fungsi Penting

Risiko neurologis meningkat ketika paparan berlangsung dalam waktu lama. Merkuri yang masuk ke tubuh dapat mencapai otak dan mengganggu komunikasi antarsel saraf. Sebagian kerusakan dapat menetap meskipun sumber paparan sudah dihentikan, terutama jika pertolongan medis baru diberikan setelah keluhan berkembang berat.

“Menurut penulis, bahaya merkuri sering diremehkan karena keluhannya dapat menyerupai gangguan kesehatan umum. Tremor ringan, sulit berkonsentrasi, dan perubahan emosi seharusnya tidak diabaikan apabila seseorang memiliki riwayat kontak dengan merkuri.”

Ginjal Bekerja Keras Menyaring Zat Beracun

Ginjal berfungsi menyaring darah, membuang sisa metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan dan mineral. Ketika merkuri masuk ke peredaran darah, organ ini menjadi salah satu lokasi penumpukan yang penting.

Kerusakan dapat bermula pada bagian kecil ginjal yang bertugas menyaring dan menyerap kembali zat yang masih dibutuhkan tubuh. Paparan berulang dapat menyebabkan protein keluar melalui urine, menurunkan kemampuan penyaringan, dan mengganggu keseimbangan cairan.

Dalam keadaan berat, fungsi ginjal dapat menurun dengan cepat. Penderitanya dapat mengalami pembengkakan pada kaki atau wajah, perubahan jumlah urine, tubuh mudah lelah, mual, tekanan darah meningkat, serta gangguan keseimbangan elektrolit.

Gejala Kanker Darah yang Sering Terlihat Biasa, tetapi Tidak Boleh Diabaikan

FDA memperingatkan bahwa merkuri dalam produk pencerah kulit dapat diserap ke aliran darah setelah digunakan berulang kali. Penumpukan tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal, termasuk kebocoran protein yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal.

Kerusakan ginjal tidak selalu menimbulkan rasa sakit pada tahap awal. Pemeriksaan darah dan urine sering diperlukan untuk mengetahui apakah kemampuan ginjal sudah menurun. Karena itu, pengguna kosmetik ilegal atau pekerja yang rutin bersentuhan dengan merkuri perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh yang tidak biasa.

Kulit Cerah Cepat Dapat Menjadi Tanda Bahaya

Merkuri pernah disalahgunakan dalam kosmetik pencerah karena mampu menghambat pembentukan melanin, yaitu pigmen yang memberi warna pada kulit. Hasil yang terlihat cepat membuat sebagian konsumen menganggap produk tersebut bekerja lebih baik dibandingkan kosmetik legal.

Perubahan warna yang cepat bukan bukti bahwa produk aman. Merkuri dapat merusak lapisan pelindung kulit, memicu iritasi, rasa terbakar, gatal, ruam, dan reaksi alergi. Pemakaian berulang juga dapat menyebabkan perubahan warna tidak merata dan munculnya bintik gelap yang sulit dipulihkan.

Zat yang dioleskan tidak hanya berhenti pada permukaan kulit. Senyawa merkuri dapat menembus jaringan, masuk ke aliran darah, kemudian mencapai ginjal dan sistem saraf. Risiko bertambah ketika krim dipakai pada area wajah yang luas setiap malam selama berbulan bulan.

FDA menyatakan senyawa merkuri mudah diserap melalui kulit dan cenderung menumpuk di tubuh. Pemakaian kosmetik yang mengandung bahan tersebut dapat menimbulkan iritasi, alergi, serta gangguan saraf.

BPOM juga masih menemukan merkuri dalam kosmetik ilegal yang beredar di Indonesia. Pada triwulan pertama 2026, merkuri termasuk bahan dilarang yang ditemukan dalam penindakan terhadap 11 kosmetik berbahaya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen tetap perlu memeriksa legalitas produk meskipun kemasannya terlihat meyakinkan.

Ibu Hamil dan Janin Menghadapi Risiko Lebih Besar

Ibu hamil termasuk kelompok yang harus memperoleh perlindungan khusus dari paparan merkuri. Metilmerkuri dapat melewati plasenta dan mencapai tubuh janin yang sedang berkembang.

Otak janin mengalami pembentukan yang sangat cepat selama kehamilan. Gangguan pada tahapan tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar, gerakan, penglihatan, pendengaran, serta perkembangan fungsi saraf setelah bayi lahir.

Seorang ibu mungkin tidak menunjukkan gejala berat, tetapi janin tetap dapat menerima paparan melalui aliran darah. Hal ini menjelaskan mengapa pengendalian merkuri pada makanan, kosmetik, dan lingkungan kerja tidak boleh hanya didasarkan pada ada atau tidaknya keluhan pada ibu.

WHO menegaskan bahwa merkuri memberikan ancaman khusus terhadap perkembangan anak selama berada di dalam kandungan dan pada awal kehidupan. Paparan metilmerkuri pada janin dapat mengganggu pembentukan sistem saraf.

Ibu hamil tidak perlu menghindari seluruh ikan karena makanan laut merupakan sumber protein dan nutrisi penting. Pemilihan jenis ikan perlu mempertimbangkan informasi keamanan pangan setempat. Ikan predator berukuran besar yang hidup lama cenderung memiliki kadar merkuri lebih tinggi karena memakan banyak ikan kecil sepanjang hidupnya.

Anak Lebih Rentan Mengalami Gangguan Perkembangan

Tubuh anak belum bekerja dengan cara yang sama seperti orang dewasa. Otak, ginjal, sistem kekebalan, dan berbagai organ masih berkembang sehingga paparan bahan beracun dapat menimbulkan gangguan lebih besar.

Anak dapat terpapar melalui makanan, kosmetik yang digunakan anggota keluarga, debu di rumah, lingkungan pertambangan, atau tumpahan merkuri dari peralatan lama. Mereka juga lebih sering menyentuh lantai dan memasukkan tangan ke mulut, sehingga risiko tertelan meningkat ketika ruangan telah tercemar.

Gangguan pada anak dapat terlihat sebagai keterlambatan bicara, kesulitan belajar, masalah koordinasi, penurunan kemampuan sensorik, perubahan perilaku, serta hambatan gerak. Gejalanya tidak selalu muncul segera setelah paparan.

ATSDR mencatat adanya masalah belajar, sensorik, dan gerakan pada anak yang lahir dari masyarakat dengan konsumsi makanan berkadar merkuri organik tinggi. Lembaga tersebut juga menyebut usia sebagai salah satu faktor yang menentukan beratnya gangguan kesehatan.

Anak tidak boleh dilibatkan dalam pembersihan tumpahan merkuri. Mereka harus segera dijauhkan dari area yang tercemar karena uap merkuri dapat terhirup tanpa diketahui.

Paru Paru Terancam Ketika Uap Merkuri Terhirup

Merkuri logam dapat menghasilkan uap meskipun berada pada suhu ruangan. Proses tersebut berlangsung lebih cepat ketika ruangan hangat atau butiran merkuri pecah menjadi bagian sangat kecil.

Setelah terhirup, uap dapat melewati paru paru dan masuk ke peredaran darah. Paparan tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan batuk, sesak napas, nyeri dada, radang saluran pernapasan, serta kerusakan jaringan paru.

Kontak berulang pada tingkat lebih rendah juga tidak boleh diremehkan. Merkuri dapat menumpuk dan perlahan memengaruhi saraf serta ginjal. NIOSH menyatakan paparan elemental secara terus menerus dapat menyebabkan penumpukan merkuri dan kerusakan permanen pada sistem saraf serta ginjal.

Ruangan tertutup meningkatkan risiko karena uap tidak cepat keluar. Keadaan ini dapat terjadi setelah termometer lama pecah di kamar, laboratorium, ruang penyimpanan, atau tempat kerja yang memiliki ventilasi buruk.

Seseorang tidak dapat mengandalkan penciuman untuk mengetahui keberadaan uap merkuri. Tidak adanya bau bukan berarti udara aman.

Saluran Pencernaan dan Sistem Kekebalan Ikut Terganggu

Garam merkuri anorganik dapat melukai mulut, kerongkongan, lambung, serta usus ketika tertelan. Gejala yang muncul dapat berupa nyeri perut, mual, muntah, dan diare.

Paparan dalam jumlah besar dapat menyebabkan peradangan berat serta kehilangan cairan. Pada saat bersamaan, zat tersebut masuk ke peredaran darah dan meningkatkan beban ginjal.

Merkuri juga dapat memengaruhi sistem kekebalan. ATSDR mencatat perubahan sistem imun pada manusia yang terpapar senyawa merkuri. Reaksi tubuh dapat berbeda antarindividu karena dipengaruhi bentuk merkuri, jumlah paparan, lama kontak, usia, kondisi kesehatan, dan jalur masuk zat tersebut.

Gangguan pada kulit dan sistem imun dapat terlihat sebagai ruam atau reaksi alergi. Namun, keluhan luar tidak selalu menggambarkan beratnya gangguan di dalam tubuh.

Ikan Tercemar Menjadi Jalur Paparan yang Sering Terjadi

Di lingkungan perairan, merkuri dapat diubah oleh bakteri menjadi metilmerkuri. Senyawa tersebut diserap organisme kecil, kemudian berpindah ke ikan yang memakannya.

Ikan kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar. Proses berulang menyebabkan konsentrasi metilmerkuri meningkat pada hewan predator yang berada di bagian atas rantai makanan. Fenomena ini membuat sebagian ikan besar memiliki kadar lebih tinggi dibandingkan organisme di sekitarnya.

WHO menyebut konsumsi ikan dan kerang tercemar sebagai jalur utama paparan metilmerkuri pada manusia. Jenis ikan predator yang berumur panjang cenderung mengumpulkan lebih banyak merkuri karena mengonsumsi banyak ikan kecil.

Cara memasak tidak selalu menghilangkan metilmerkuri yang sudah berada di jaringan ikan. Konsumen perlu mengikuti peringatan keamanan pangan dan memilih variasi makanan laut agar tidak terus menerus mengonsumsi satu jenis ikan berkadar tinggi.

Perhatian lebih besar diperlukan bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak kecil, serta masyarakat yang mengandalkan ikan hasil tangkapan dari wilayah yang diketahui tercemar.

Penambangan Emas Membuka Jalur Paparan bagi Pekerja

Merkuri digunakan dalam sebagian kegiatan penambangan emas skala kecil untuk mengikat partikel emas. Campuran yang terbentuk kemudian dipanaskan agar merkuri menguap dan emas tertinggal.

Proses pemanasan tanpa perlindungan memadai membuat pekerja menghirup uap berkonsentrasi tinggi. Uap juga dapat menyebar ke rumah, pakaian, tanah, sumber air, dan lingkungan permukiman.

Anggota keluarga yang tidak bekerja di lokasi tambang tetap dapat terpapar melalui pakaian pekerja, peralatan yang dibawa pulang, atau kegiatan pengolahan yang dilakukan dekat rumah. Anak dan ibu hamil menjadi kelompok yang paling perlu dilindungi.

WHO menyebut penggunaan merkuri pada pertambangan emas skala kecil sebagai kegiatan yang sangat berbahaya. Organisasi tersebut mendorong metode pengolahan emas tanpa merkuri serta penerapan prosedur kerja yang lebih aman selama zat itu masih digunakan.

Paparan pekerja tidak boleh hanya dinilai dari munculnya tremor berat. Perubahan ingatan, sulit tidur, mudah tersinggung, sakit kepala, dan gangguan koordinasi dapat menjadi tanda awal yang membutuhkan pemeriksaan.

Gejala Bisa Berbeda pada Setiap Orang

Keracunan merkuri tidak memiliki satu pola tunggal. Bentuk zat, jumlah yang masuk, lama paparan, usia, kondisi kesehatan, serta jalur masuk menentukan keluhan yang muncul.

Paparan uap elemental lebih sering mengenai paru paru dan sistem saraf. Garam anorganik lebih mudah melukai saluran pencernaan dan ginjal. Metilmerkuri dikenal sangat berbahaya bagi otak, terutama pada janin dan anak.

Keluhan awal dapat berupa sakit kepala, kelelahan, kesemutan, gangguan tidur, mual, atau perubahan emosi. Pada tahap berat dapat terjadi tremor, penurunan daya ingat, gangguan bicara, kelemahan otot, kesulitan berjalan, kerusakan ginjal, hingga gangguan pernapasan.

Riwayat paparan menjadi informasi penting bagi dokter. Pasien perlu menjelaskan penggunaan kosmetik, pekerjaan, konsumsi makanan laut, keberadaan alat bermerkuri di rumah, serta kemungkinan tinggal di sekitar pertambangan atau industri.

“Menurut penulis, masyarakat perlu berhenti menganggap perubahan kulit dan gangguan saraf sebagai dua masalah terpisah ketika kosmetik ilegal digunakan. Zat yang dioleskan pada wajah dapat bergerak melalui darah dan mencapai organ penting.”

Pemeriksaan Tidak Cukup Hanya Melihat Gejala

Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan merkuri pada darah, urine, rambut, atau kuku sesuai jenis paparan yang dicurigai. Pemilihan sampel perlu dilakukan berdasarkan riwayat pasien karena setiap bentuk merkuri mempunyai karakter berbeda.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya merkuri dalam tubuh, tetapi tidak selalu dapat menentukan bentuk zat yang masuk. Angka tersebut juga tidak secara otomatis memprediksi apakah seseorang akan mengalami gangguan permanen.

ATSDR menegaskan bahwa merkuri dapat diukur melalui darah, urine, rambut, atau kuku, tetapi tes tidak selalu dapat menunjukkan jenis merkuri maupun meramalkan masalah kesehatan yang akan terjadi.

Dokter mungkin memeriksa fungsi ginjal, urine, kondisi saraf, kemampuan gerak, penglihatan, pendengaran, serta fungsi pernapasan. Penanganan utama dimulai dengan menghentikan sumber paparan.

Terapi pengikat logam atau kelasi hanya diberikan pada keadaan tertentu di bawah pengawasan tenaga medis. Penggunaan obat kelasi tanpa pemeriksaan dapat menimbulkan gangguan baru dan tidak boleh dilakukan sendiri.

Tumpahan Merkuri Tidak Boleh Dibersihkan dengan Penyedot Debu

Tumpahan merkuri dari termometer atau alat lama memerlukan penanganan berbeda dari cairan biasa. Butiran logam dapat pecah, bergerak ke celah lantai, dan terus melepaskan uap.

Penyedot debu tidak boleh digunakan karena panas serta aliran udara dari mesin dapat mengubah lebih banyak merkuri menjadi uap dan menyebarkannya ke seluruh ruangan. Sapu juga tidak dianjurkan karena dapat memecah merkuri menjadi butiran yang lebih kecil.

EPA menyarankan penghuni lain dan hewan peliharaan segera meninggalkan ruangan. Jendela serta pintu menuju luar perlu dibuka, sedangkan pintu ke bagian rumah lain ditutup. Anak tidak boleh membantu proses pembersihan.

Merkuri juga tidak boleh dibuang ke saluran air karena dapat tertahan dalam pipa dan mencemari sistem pembuangan. Sepatu atau pakaian yang terkena tumpahan dapat membawa zat tersebut ke ruangan lain.

Apabila jumlah tumpahan lebih besar daripada isi termometer, masyarakat perlu menghubungi petugas pemadam kebakaran, dinas kesehatan, fasilitas pengelola limbah berbahaya, atau layanan darurat setempat. Penanganan mandiri dapat memperluas pencemaran ketika lokasi atau jumlah butiran tidak dapat dipastikan.

Kosmetik Aman Harus Memiliki Identitas yang Jelas

Konsumen perlu memeriksa kemasan, komposisi, nomor notifikasi BPOM, nama produsen, tanggal kedaluwarsa, serta petunjuk penggunaan sebelum membeli kosmetik. Nomor yang tercetak pada kemasan perlu diperiksa kembali melalui kanal resmi BPOM.

Produk tanpa identitas produsen, dijual dalam wadah polos, atau menjanjikan kulit putih dalam waktu sangat singkat harus dicurigai. Hasil yang cepat dapat berasal dari bahan dilarang yang menekan produksi pigmen dan merusak jaringan kulit.

Pembelian melalui media sosial atau lokapasar juga membutuhkan kehati hatian. Foto kemasan dan ulasan pembeli tidak dapat menggantikan pemeriksaan legalitas.

Ketika sebuah produk dinyatakan mengandung merkuri, pemakaian harus segera dihentikan. Pengguna yang mengalami tremor, kesemutan, sakit kepala berulang, perubahan warna kulit, pembengkakan, atau gangguan urine perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan membawa kemasan produknya.

Anggota keluarga juga perlu menghindari kontak dengan krim tersebut. FDA mengingatkan bahwa penggunaan berulang memungkinkan merkuri masuk ke aliran darah dan menimbulkan masalah serius yang dapat menetap. Anak serta ibu hamil menghadapi risiko lebih tinggi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *